Translate

Sabtu, 23 April 2016

Tips Lele - Penting, Bijak dalam memilih pakan Alternatif untuk Lele - True Story Budidaya Lele - Ingin Untung Malah Buntung - AndreBisa

Harga pelet akhir-akhir ini meningkat tajam. Hal ini di perparah dengan naiknya harga BBM. Hal ini tentu saja membuat kalangan petani ikan, terutama lele yang menggunakan pelet sedikit mengelus dada. apalagi harga konsumsi lele yang merosot dan tidak dapat memenuhi target penghasilan yang diharapkan.
 Analisis, Artikel, Fakta dan Data, Kendala/Penyakit, Pakan Alternatif, Pakan Lele, Rahasia, Panduan,
Sebagian besar petani/peternak lele beralih menggunakan pakan alternatif, dari mulai roti bs, sosis bs, ayam tiren, usus, dll. Hal ini tentu menjadi solusi bagi petani ditengah mahalnya harga pelet di tingkat petani/peternak. Namun terselip sedikit persoalan yang kadang jarang disadari saat menggunakan pakan alternatif, terutama bagi yang sebelumnya menggunakan pakan pelet. 

Banyak diantara petani lele yang menggunakan pakan alternatif yang kurang memperhitungkan kandungan nutrisi dari pakan alternatif yang digunakan. kebanyakan menggunakannya hanya untuk menekan biaya produksi (istilahnya ASAL GEDE DAN UNTUNG). Akibatnya tentu akan mengakibatkan masalah lain saat budidaya, misal air cerpat bau, pertumbuhan yang kurang merata, timbulnya berbagai macam penyakit, dll.

Nah dalam menggunakan pakan alernatif, ada beberapa hal yang wajib diperhatikan, agar keuntungan yang diharapkan benar-benar terwujud, berikut analisis saya (pendapat saya pribadi).
1.      Perhatikan komponen bahan baku dari pakan alternatif.
    Penggunaan pakan alternatif harus jeli dalam memilih pakan apa yang akan kita berikan. hal ini ditunjang dengan pengetahuan kita memilih pakan alternatif dengan bahan baku yang tepat. misalnya, ayam tiren bahan dasarnya daging kemungkinan protein dan lemak lebih tinggi dibanding yang lain (misal, karbohidrat, dll). Roti bs, bahan dasarnya terigu, jadi kemungkinan kandungan karbohidratnya lebih tinggi, dst.
      Nah dengan mengetahui hal ini, maka kita akan tau kapan memberikan pakan alternatif a, kapan memberikan pakan alternatif b, dll. jadi istilahnya "Gak Asal Ngasih Pakan"
2.    Perhatikan Ketersediaannya
    Budidaya lele (pembesaran) berlangsung kurang lebih antara 2-4 bulan per siklus. tergantung taknik dan pakan yang digunakan. nah apakan pakan alternatif yang anda gunakan dapat tersedia untuk waktu tersebut? usahakan pilih yang selalu tersedia (tidak musiman)
3.    Perhatikan Harga pakan alternatif anda
     Ini penting, harga pakan alternatif sebaiknya harus sangat diperhitungkan. hal ini agar tidak menjadi bumerang bagi kita. istilahnya mau untung malah buntung (baca dibawah). Kenapa? karena kandungan nutrisinya beda, proposrinya beda, dll. Harap ingat, pelet dihargai dalam bentuk kering. jadi gunakan standar itu dalam menilai harga pakan alternatif
    Misal ayam tiren, 1 kilogram ayam tiren, jika di hancurkan dan dibuat tepung akan menjadi berapa kilogram? (saya belum meneliti secara khusus konversi ayam tiren, tapi beberapa teman sudah melakukannya, misal pa Edi Jalasena). misal 1 kg tiren jadi 200 gram tepung ayam. nah berarti untuk mendapat 1 kg pakan tiren kering kita membutuhkan 5kg ayam tiren. nah kalo kita beli ayam tiren seharga 1500, maka untuk mendapatkan 1 kilogram tepung ayam membutuhkan paling tidak 7500.
      Namun hal ini berbeda cerita jika anda mendapatkan pakan alternatif yang GRATIISSSS. atau hanya memberi sekedar uang lelah tentu poin ini tidak jadi masalah
4.     Perhatikan Komponen Pendukung Budidaya anda
    Seperti dikatakan diatas, penggunaan pakan alternatif juga akan menambah residu/sampah pada kolam. hal ini dikarenakan beberapa komponen pada pakan alternatif tidak dimakan atau tidak sempurna dicernanya. Oleh karena itu, sebelum menggunakan pakan alternatif pastikan kolam anda mudah dibersihkan, mudah ganti air, dll
       selain itu harap perhatikan faktor lingkungan.
5.     Catat dengan baik rincian usaha anda
hal ini penting untuk mengetahui berapa besar efisiensi yang anda lakukan. Jadi nantiny bisa menjadi bahan pertimbangan dan perbandingan.
6.     dll
masih banyak sih tapi cari aja di mbah google atau etc.
Jika anda terpaksa menggunakan pelet seperti saya (karena komponen-komponen diatas tidak memenuhi), maka yang harus difikirkan adalah bagaimana cara meningkatkan nilai jual, selain memikirkan bagaimana menurunkan biaya produksi.

Ah susah kalo gitu, hehe kalo mau gampang jualnya jangan jual lele, jual bensin, gas, atau jual emas, harganya pasti, sorry becanda. Itulah tantangannya, yang bisa lulus jadi pengusaha sukses, yang males ya gitu deh. Ingat ada banyak pedagang, pedagang yang sukses? hanya ada beberapa. Ada banyak peternak, peternak yang sukses? ada beberapa saja, nah semoga kita salah satunya Amiiiin YRA.

True Story Budidaya Lele - Ingin Untung Malah Buntung
Sebelumnya maaf bagi yang tidak setuju dengan bahasan yang akan saya tuliskan di bawah ini. Apa yang  tuliskan hanya sekedar curhat bagi para peternak pemula yang ingin terjun di budidaya lele sangkuriang atau lele apapun.

Kali ini ceritanya tentang pemberian pakan. tidak dapt dipungkiri, pakan merupakan cost/biaya terbesar dalam budidaya lele. Namun saya rasa tidak hanya dalam budidaya lele dalam budidaya lainpun pakan menjadi pengeluaran terbesar dalam budidaya. Berbagaimacam cara dilakukan untuk menekan pengeluaran pakan. baik dengan cara mencari pakan alternatif, maupun mencapurnya dengan berbagai macam probiotik.
 
Jadi ceritanya, dalam sebuah siklus budidaya, timbul niatan untuk menghemat pengeluaran pakan dengan mengganti pakan yang biasa digunakan dengan pakan yang harganya murah namun dengan tingkat protein yang lebih rendah dari pakan biasanya. Nah dalam kepala saya, kekurangan proteinya ini bisa diakali dengan menambahkan probiotik, karena konon katanya pemberian probiotik akan dapat meningkatkan kadar protein pada pakan.

Jadilah rencana itu dijalankan, 1,2,3 hari di jalani, lele lahap dan masih menunjukan tanda-tanda rakus. menuju hari ke 7-8, pakan sudah habis lebih dari 3 sak. Gejala aneh mulai timbul, kolam mulai berbau. awalnya baunya biasa saja, bau anyir, namun lama kelamaan baunya jadi sangat menyengat. namun lele tetap menunjukan kerakusan yang sama, jadi dalam fikiran saya lele masih sehat dan bagus perkembangannya.

Menuju sak yang ke 4, saya mulai menyadari bahwa pertumbuhan lele jadi tidak seimbang, sebagian lele bertambah besar, dan yang lainnya tetap kecil. padahal saat pemberian pakan, semuanya lahap menyantap pelet.

Nah dari sini saya mulai penasaran, dan saya putuskan untuk memindahkan lele ke kolam lain. Nah disini hal yang memilukan itu (cie cie bahasanya) terjadi. ternyata, di dasar kolam ketinggian lumpur sisa pelet hampit 2-3cm, dan inilah yang menyebabkan sangat bau. Hmmm, jadi ternyata lele memang rakus saat menyantap pelet namun beberapa saat kemudian di muntahkan kembali. wow jadi selama ini lelenya kelaparan dan saling memangsa sehingga pertumbuhannya jadi tidak seimbang.

Duh-duh pengen untung malah buntung, padahal dengan menggunakan pelet yang biasa saja keuntungan yang didapar masih berkisar 20-30%, nah sekarang malah 0% hehe.
Kesimpulannya:
1.     Pemberian pakan harus disesuaikan dengan kebutuhan lele itu sendiri baik dari besar kecilnya ukuran pelet, kandungan nutrisi, dan lain sebaginya
2.    Kanibalisme bisa terjadi jika pasokan pakan tidak mencukupi kebutuhan lele itu sendiri.
3.    Efektifitas Pemberian Probiotik pada pakan juga tergantung pada jenis dan kualitas pakan itu sendiri. 
4.     hehe cuma itu sementara yang bisa saya simpulkan.
Nah ini Pengalamanku, mana pengalamanmu.
Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini 
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca artikel ini. dan Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

"Teh Celup Lele", Ramuan ajaib peternak Lele Sangkuriang - AndreBisa

Pernah menedengar istilah Teh Celup Lele? well ini kedengarannya aneh, kalau ada yang berfikir Teh Celup Lele adalah sejenis sejenis makanan, itu salah besar. Teh Celup Lele sebenarnya tidak ada kaitannya dengan makanan, namun Teh Celup Lele sangat berkaitan dengan management air. seperti diketahui bersama, bahwa sebelum memulai menabur benih, terlebih dahulu air harus di pupuk sedemikian rupa supaya "Matang". Matang dalam pengertian kondisi air sudah dalam kondisi PH yang cukup, jumlah plankton cukup, intinya kondisi air sudah siap untuk ditanami.
 
Lalu apa hubungannya antara management air dengan Teh Celup Lele? Teh Celup Lele adalah pupuk kandang yang dimasukan kedalam karung kemudian di ikat bagian atasnya. nah karung yang sudah diisi pupuk ini kemudian di "celupkan" kedalam kolam. dan bagian atas yang diikat di gantungkan ke pinggiran kolam sehingga mirip dengan Teh Celup. berikut contoh teh Teh Celup Lele.
 
Komposisi yang tepat untuk membuat Teh Celup Lele menurut pengalaman saya adalah 1,5 - 3 kg, per meter persegi. jadi jika membuat kolam dengan ukurang 2x5m, maka diperlukan 15-30kg pupuk kandang. Bisa kotoran ayam atau kotoran kambing/domba. Usahakan jangan menggunakan kotoran sapi. Jika kolam Cukup luas, maka buat jadi beberapa kantong teh celup lele.

Bila diperlukan silahkan tambahkan ramuan Herbal kedalamnya bersamaan pada saat memasukan kohe. cek disini untuk cara membuat herbal: Tips - Cara gampang dan murah membuat Ramuan Herbal untuk Kolam Lele

Keunggulan metode ini untuk mematangkan air adalah kolam tetap bersih, bebas sampah, tanah, lumpur, mempermudah pengelolaan kolam dan masih banyak lagi. Selain itu kondisi air juga lebih jernih jika dibanding dengan memasukan pupuk kandang langsung kedalam kolam. 


Oke mudah-mudahan informasi ini bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini

Salam Patilers

Tips Lele - Tips dan Trik Cara gampang dan murah membuat Ramuan Herbal untuk Kolam Lele - AndreBisa

Rame-rame pembahasan tentang ramuan herbal atau rabal membuat saya jadi teringat saya belum mempostingkan cara untuk membuat ramuan herbal untuk mengompos air. Ramuan herbal ini saya gunakan dikolam dengan teknik organik, atau biasa orang bilang GWS atau apalah. pokoknya fungsinya untuk mengondisikan air supaya stabil, dan jika di tanami bibit lele, lele menjadi nyaman, tidak perlu ganti air kolam, tidak perlu sirkulasi, dan lain sebagainya.

Ramuan herbal ini saya dapatkan dari berbagai sumber. Silahkan coba dan amati. Ingat selalu bijak dalam menggunakan ramuan-ramuan herbal. Walaupun bahan yang dipakai adalah bahan alami, jika diberikan secra berlebihan atau tidak seimbang maka akan kurang maksimal khasiatnya.

Namun satu hal yang pasti, bahan-bahan yang digunakan membuat ramuan herbal ini sangat murah dan dapat dijumpai di lingkungan sekitar kita. Oke langsung saja.
Analisis, Fakta dan Data, GWS, Herbal, Kendala/Penyakit, Kolam Lele, Lele Sangkuriang, Organik, Panduan, Rahasia, Tips dan Trik,
Bahan-bahan
1.   5 Liter Air Bersih
2.   10 Lembar Daun Pepaya Jantan
3.   10 Lembar Daun Sirih
4.   10 Lembar Daun Ketapang
5.   10 Lembar Daun Jawer Kotok
6.   1 Kilogram Arang kayu
7.   1 Kilogram Kotoran Kambing, disarankan kotoran kambing basah atau becek karena bercampur dengan air kencing (Jangan yang bulat-bulat).
Cara Pembuatan
Cara pembuatan ramuan herbal kolam lele ini, sangat mudah, anda tinggal merendam saja bahan-bahan tersebut di menjadi satu  pada wadah khusus, anda bisa menggunakan ember atau galon, lalu biarkan dan diendapkan selama dua minggu dan ramuan herbal kolam lele ini siap digunakan.

Cara penggunaan Ramuan Herbal pada Kolam:
Campurkan 4 (empat) tutup botol aqua (+ 20cc) ramuan herbal kolam lele dengan 5 (lima) liter air, tambahkan dengan 2 (dua) sendok makan garam dapur. Setelah tercampur dengan baik, ramuan herbal kolam lele tersebut bisa segera dimasukan pada kolam lele sangkuriang. komposisi ini adalah untuk kolam berukuran 10 m persegi. Jadi jika kolam anda lebih besar atau lebih kecil dari 10m persegi, tinggal disesuaikan saja.

Caranya memasukan ramuan herbal kolam lele ini adalah cairan yang sudah dicampur dengan garam dan air bersih tadi disebar merata pada permukaan air kolam. Waktu pemberiannya ramuan herbal ini harus bersamaan dengan proses pengomposan. 

Selamat mencoba membuat ramuan herbal untuk kolam lele


Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

Lele Organik - Cara menumbuhkan phytoplankton pada saat Persiapan Kolam Lele - AndreBisa

Jika diperhatikan pada artikel-artikel pembuatan/persiapan kolam sebelumnya, bsa dilihat bahwa warna air sebelum penebaran bibit terlihat berwarna hijau bersih. padahal, saat air dimasukan kondisi dan warna airnya biasa saja. Hal ini disebabkan didalam kolam telah terjadi pertumbuhan phytoplankton pada kolam yang menjadikan air menjadi hijau.
Kondisi air yang telah ditumbuhi phytoplankton
Apakan ini penting? well pertanyaan ini agak sulit dijawab, bisa penting ataupun tidak, namun menurut pegalaman penulis, hal ini memang sangat penting karena kondisi ini menunjukan bahwa air/kondisi kolam sudah siap untuk ditebar bibit.

Kondisi seperti ini pada saat persiapan tebar Bibit, ini sangat penting sekali dilakukan, karena hal ini dilakukan untuk membuat lingkungan air yang nyaman untuk hidup bibit-bibit lele. Pada Lingkungan air yang berwarna Hijau daun maka Suplai Oksigen (O2) dari hasil fotosintesa sangat membantu untuk kenyamanan hidup bibit. Disamping Phytoplankton ini juga sebagai selimut alami yang berfungsi menjaga kestabilan fluktuasi suhu air perbedaan pada siang Hari dan malam harinya.

Namun beberapa peternak tidak menjumpai hal ini, kenapa? dan apa penyebabnya?. hal yang paling sering terjadi adalah peternak sering kali tidak sabar untuk menebar kolam, sehingga kondisi kolam belum mencapai pada konsisi puncaknya. Atau juga penanganan dan pengelolaan kolam yang kurang baik, misal tidak memberikan pupuk kandang pada kolam, dan lain sebagainya.

Akibatnya apa? sering kali meningkatnya tingkat kematian dari lele itu sendiri, atau pertumbuhan lele yang tidak/jauh dari yang diharapkan. Nah bagaimana cara menumbuhkan phytoplankton pada kolam lele kita?

Berikut beberapa tahapan yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan phytoplankton pada kolam kita::
*Masukkan air bersih, kalau air dari sawah atau sungai karena sudah mengandung bibit phytoplankton dan kadar Bahan Organik yang terlarut relatif lebih tinggi, maka akan lebih mudah dalam pembentukan warna airnya. Tetapi apabila sumber airnya adalah air dari sumber mata air atau sumur, maka perlu dipancing dengan adanya pemupukan menggunakan pupuk Kandang sebanyak 0,5 Kg/M3 (Istilahnya Teh Celup Lele).
*Untuk yang menggunakan air sungai atau air sungai, harap siperhatikan apakah air kolam/sungai sudah tercemar polutan atau belum, jika sudah keruh atau berbau sebaiknya pakai air sumur sja.
*Bila diperlukan Tambahkan Probiotik secukupnya
*Pada kolam tanah kemungkinan akan lebih mudah dalam membuat warna air cepat menjadi Hijau, sedangkan pada kolam plastik atau beton agak lebih sulit. 
*Hal yang perlu diperhatikan adalah, pada kolam tanah mudah sekali menjebak kotoran atau Bahan Organik, maka akan mudah didapat kondisi lingkungan yang cepat subur diumur masa budidaya diatas 60 hari, sehingga sering terjadi gejolak penyakit yang disebabkan oleh penurunan daya dukung lingkungan kolam karena kotoran yang berlebih. Sehingga diperlukan PERAWATAN AIR.
*Pada kolam Plastik atau Beton, pada awalnya memang sulit untuk membetuk warna air, tetapi seiring dengan waktu berjalan dan bertambahnya pengalaman kita dalam mengolah air maka justru pada jenis kolam ini mudah sekali mengontrol tingkat kesuburan dalam kolam.

CATATAN: bagi yang menggunakan Teknik Teh Celup Lele, maka kondisi ini dicapai setelah 7-14 Hari pasca pencelupan pupuk organik. 

Mudah mudahan artikel ini bisa mermanfaat, jika ada yang mempunyai ide lain bisa didiskusikan di forum atau di kotak komentar. 

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini

Salam Patilers

Selasa, 25 Agustus 2015

cara mempercepat ikan (nila, lele, bawal) cepat besar - KharismaUnix.Com

Pakan ikan buatan pabrik memang praktis dan cukup baik untuk Pertumbuhan ikan, namun harga pelet ikan yang cukup tinggi cukup memberatkan para petani ikan. Harga Pelet ikan saat ini berkisar pada harga 7 ribu rupiah per kilogram, sedangkan harga ikan Nila, Lele dan Bawal dari petani biasanya dibeli seharga 9500 rupiah, di beberapa daerah mungkin bisa sampai 1200 rupiah per kilogram .Kondisi ini jelas tidak menguntungkan bagi petani ikan, belum lagi permasalahan penyakit ikan, sewa lahan dan lain-lain.
Berbagai teknologi untuk memacu pertumbuhan ikan memang telah dilakukan misalnya penambahan probiotik atau pemotongan sirip ekor pada ikan nila. Namun harga pakan yang terlalu tinggi jelas menjadi kendala tersendiri. Salah satu langkah untuk menekan biaya pakan ikan adalah memanfaatkan makanan sisa dan roti kadaluarsa. Makanan sisa merupakan sisa limbah rumah makan,rumah tangga yang tidak habis dimakan manusia.

Pemanfaatan limbah tersebut sangat menguntungkan bagi pembudidaya. Sekarung sisa makanan cukup untuk memberi makan satu kolam berisi lima kuintal bibit bawal ukuran 10 ekor per kg dan nila ukuran 40 ekor per kg selama dua tiga hari, tergantung kondisi fisik pakan. Memang, Cahyanta memang selalu menerapkan teknik polikultur, menebar bawal dengan nila sebagai sampingan.

Di sebagian wilayah Kabupaten Sleman, Yogyakarta, seperti Kecamatan Godean dan Cangkringan yang banyak terdapat kolam air mengalir, pemberian pakan berupa lorotan dan roti kadaluarsa untuk ikan semacam bawal dan nila mulai marak pada beberapa tahun terakhir. Lorotan adalah sisa makanan restoran atau warung makan. Harga nasi lorotan saat ini Rp500 per kg. Para pembudidaya tersebut memperoleh lorotan sekaligus roti bekas dari pengepul. Campuran lorotan dan roti kadaluarsa dijual Rp50.000 per karung isi 50 kg.

Fase pembesaran bawal dan nila membutuhkan waktu 2,5—3 bulan. Jika pembesaran sampai tiga bulan, hitung punya hitung, biaya pakan dengan lorotan hanya Rp2,25 juta, sedangkan yang menggunakan pellet mencapai Rp9 juta.
Hanya saja syarat mutlak penggunaan campuran lorotan ini adalah kolam dengan air mengalir. Jika air tidak mengalir ikan bisa mati semua. Ini disebabkan karena adanya lapisan minyak yang timbul dari lorotan. Bila air kolam mengalir, lapisan minyak ini akan hilang dari permukaan air. Apabila air menggenang, minyak bisa saja menyangkut di insang sehingga ikan mati.

Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, pukul 09.00—10.00 dan 14.00—15.00. Pemberian pakan saat cuaca relatif panas ini bertujuan agar si ikan aktif bergerak karena suhu airnya telah hangat. Keaktifan gerak ini menyebabkan nafsu makan akan meningkat. Karena itu kolam sebaiknya tidak terhalang dari sinar matahari.(galeriukm).


 berikut video cara mudah budidaya nila dan cepat panen: 

                 
                       
 berikut video cara pembiakan dan budidaya lele

Probiotik Mempercepat Pertumbuhan Ikan - KharismaUnix.Com

Pertumbuhan Ikan Budi Daya yang cepat tidak hanya membuat hati senang tetapi juga menekan pengeluaran untuk pakan,mempercepat masa panen dan ikan bisa dipanen dalam ukuran yang seimbang. Banyak pengalaman petani budi daya ikan harus melakukan panen secara bertahap karena ukuran ikan saat ditebar sama tetapi mengalami pertumbuhan yang berbeda-beda. Karena itu beberapa rekayasa dan upaya dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan ikan dan ukuran yang seragam dengan demikian efisiensi produksi budi daya ikan menjadi cukup baik. Beberapa petani ikan menempuh cara dengan memberikan makanan berprotein tinggi dan memberikan makanan alami seperti keong, bekicot dan lain-lain. Akan tetapi pemberian pakan alami terkendala karena tidak praktis. Pada beberapa budi daya ikan seperti budi daya ikan guramih, Ikan Lele, Ikan Nila, Ikan mas dan lain sebagainya, pemberian probiotik telah dirasakan manfatnya dalam mempercepat pertumbuhan dalam budidaya ikan.


Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang sangat bermanfaat bagi makhluk hidup. Mikroorganisme yang terkandung pada Probiotik mampu membantu pencernakan makanan pada tuhuh hewan dan manusia sehingga makanan yang mengandung probiotik akan mampu dicerna dan diserap tubuh dengan baik. Selain itu probiotik mampu meningkatkan kekebalan tubuh dari serangan penyakit.

Pada Budi Daya Ikan probiotik diberikan sebagai campuran makanan dan ada yang ditaburkan pada kolam pemeliharaan. Untuk Probiotik yang dicampur pakan, bisa dicampurkan dengan pakan buatan pabrik (pelet) maupun pakan alami seperti daun-daunan. Penebaran probiotik pada kolam akan membantu tumbuhnya plankton-plankton dan mikroorganisme lainnya dalam air kolam sebagai makanan alami ikan. Probiotik jenis ini akan menggemburkan dasar kolam sekaligus memelihara kualitas air seperti Nature atau Super Plankton. Probiotik ini cukup diguyurkan ke air kolam pada pagi hari setiap dua minggu sekali supaya air selalu sehat, tidak blooming dan penuh dengan plankton sebagai pakan alami.

Pengalaman dari Himawas Atasasih, pemilik HMPS di Jl Sutijap 23 Wates, Kulonprogo, Para petani Ikan Guramih Kulonprogo sudah terbiasa memakai probiotik dicampur pakan. Misalnya, probiotik RajaGrameh, RajaLele, MasterFish, SPF atau Nature yang mudah diperoleh di toko pakan ternak atau toko pertanian. Dengan campuran probiotik dan pelet membuat metabolisme dan pencernaan ikan sempurna. Sebagian besar, 90% pakan yang masuk ke tubuh akan menjadi daging ikan.

Pengalaman Pak Jumadi, petani gurami dari Desa Ceme, Srigading, Sanden, Bantul membenarkan pemberian probiotik sangat membantu pertumbuhan ikan. Saat melihat di kolamnya banyak gurami stres dan mengambang bahkan beberapa mati, dia secepatnya mengguyurkan sebotol probiotik Nature campur segenggam gula pasir ke kolam. Keesokan harinya air kembali hijau jernih dan semua guraminya sehat kembali.

Pengalaman para petani ikan Gurami di Desa Jambidan, Bantul Yogyakarta telah meninggalkan cara konvensional budi daya guramih dan beralih ke cara modern dengan memanfaatkan probiotik. Budi Daya ikan dengan cara konvensional 30 kg pelet hanya menjadi 22 kg daging ikan, dengan sistem Guba (Gugus Simba) bisa menjadi 28-30 kg atau konversinya 1:1. Artinya, ikan lebih berbobot karena penambahan probiotik akan menjadikan 90% pakan menjadi daging dan hanya 10% yang dibuang sebagai amoniak.

Menurut Wiwied Usman, Sekjen PerMina sekaligus pembudi daya Ikan Gurami, Kelebihan lain penerapan sistem Guba, pertumbuhan lebih cepat sehingga waktu pemeliharaan lebih pendek. Bila dengan sistem konvensional untuk mencapai berat 1 kg butuh waktu dua tahun, dengan sistem Guba hanya butuh waktu satu tahun. Pengalaman mereka untuk mencapai 8-9 ons dari ukuran silet cukup dalam waktu 9 bulan dengan kombinasi pakan daun sekali sehari. Cara konvensional tanpa penambahan probiotik pada pakan, setahun baru mencapai berat 6-7 ons.

Pakar gurami dari Jurusan Perikanan UGM Ir Gandung Hardaningsih menguraikan, dari berbagai riset, probiotik memang terbukti bagus untuk pemeliharaan air kolam dan pemacu pertumbuhan ikan. Karena ada introduksi mikroba positif maka kolam menjadi lebih sehat dan ikan juga lebih kuat terhadap stres dan penyakit. Yang pasti, pertumbuhan ikan bisa sangat pesat karena probiotik juga merangsang nafsu makan.

“Saya kira probiotik akan menjadi andalan para petani ikan di masa depan karena manfaatnya sangat besar pada pertumbuhan ikan sehingga cukup berarti dengan keuntungan yang didapat,’’ tandasnya. Probiotik ibarat benteng pertahanan diri, sebaiknya diberikan sejak dini. Begitu bibit mau masuk kolam, tiga hari sebelumnya air kolam harus diguyur probiotik Nature atau SPF lebih dahulu agar kondisi air cepat matang dan tumbuh banyak plankton. Selanjutnya, pemberian probiotik untuk pemeliharaan air cukup dua minggu sekali atau ketika kondisi air menurun kualitasnya.
Perbandingan Hasil Budi Daya Ikan Gurami dengan Cara Konvensional dan Penambahan Probiotik

Biaya  1.000 ekor bibit gurami ukuran silet/korek dengan harga Rp 1.000,-/ekor , membutuhkan pakan 30 sak (harga Rp 210.000).
Total modal sekitar Rp 7,5 juta.  Cara konvensional akan menghasilkan ikan sekitar 7 kuintal. Dengan harga panen Rp 20.000 /kg pendapatan petani sekitar Rp 14 juta.
Keuntungan  sekitar Rp 6 jutaan.

Sistem Guba memberikan terobosan pada berat ikan. Dengan penambahan probiotik seperti RajaGrameh, RajaLele, Nutrisi Simba, ditambah SPF yang dicampurkan pada pakan maka hasil panen bisa mencapai 9 kuintal. Berarti pendapatan petani mencapai Rp 18 juta. Jadi, ada selisih 2 kuintal, senilai Rp 4 juta, jauh lebih untung dibanding cara biasa.

Biaya tambahan untuk membeli probiotikpun tidaklah mahal, dua tutup RajaGrameh ditambah 1 tutup SPF untuk mencampur 5 kg pakan pelet, terbukti hasilnya luar biasa. Padahal untuk 30 sak pakan hanya dibutuhkan biaya tambahan untuk pembelian probiotik Rp 400 ribu saja. Yakni, untuk pemacu tumbuh Rp 200 ribu, untuk penambah bobot Rp 100 ribu, dan untuk pengobatan Rp 100 ribu. Jadi, penambahan biaya Rp 400 ribu, tambahan keuntungannya Rp 4 juta.

Sumber:
1.http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=45237
2. Harian Kedaulatan Rakyat

 Video berikut Cara pembiakan Probiotik alami, mudah hemat, mari saksikan cara pembuatan pembiakan probiotik pakan ikan yang ini: