Translate

Sabtu, 23 April 2016

Tips Lele - Penting, Bijak dalam memilih pakan Alternatif untuk Lele - True Story Budidaya Lele - Ingin Untung Malah Buntung - AndreBisa

Harga pelet akhir-akhir ini meningkat tajam. Hal ini di perparah dengan naiknya harga BBM. Hal ini tentu saja membuat kalangan petani ikan, terutama lele yang menggunakan pelet sedikit mengelus dada. apalagi harga konsumsi lele yang merosot dan tidak dapat memenuhi target penghasilan yang diharapkan.
 Analisis, Artikel, Fakta dan Data, Kendala/Penyakit, Pakan Alternatif, Pakan Lele, Rahasia, Panduan,
Sebagian besar petani/peternak lele beralih menggunakan pakan alternatif, dari mulai roti bs, sosis bs, ayam tiren, usus, dll. Hal ini tentu menjadi solusi bagi petani ditengah mahalnya harga pelet di tingkat petani/peternak. Namun terselip sedikit persoalan yang kadang jarang disadari saat menggunakan pakan alternatif, terutama bagi yang sebelumnya menggunakan pakan pelet. 

Banyak diantara petani lele yang menggunakan pakan alternatif yang kurang memperhitungkan kandungan nutrisi dari pakan alternatif yang digunakan. kebanyakan menggunakannya hanya untuk menekan biaya produksi (istilahnya ASAL GEDE DAN UNTUNG). Akibatnya tentu akan mengakibatkan masalah lain saat budidaya, misal air cerpat bau, pertumbuhan yang kurang merata, timbulnya berbagai macam penyakit, dll.

Nah dalam menggunakan pakan alernatif, ada beberapa hal yang wajib diperhatikan, agar keuntungan yang diharapkan benar-benar terwujud, berikut analisis saya (pendapat saya pribadi).
1.      Perhatikan komponen bahan baku dari pakan alternatif.
    Penggunaan pakan alternatif harus jeli dalam memilih pakan apa yang akan kita berikan. hal ini ditunjang dengan pengetahuan kita memilih pakan alternatif dengan bahan baku yang tepat. misalnya, ayam tiren bahan dasarnya daging kemungkinan protein dan lemak lebih tinggi dibanding yang lain (misal, karbohidrat, dll). Roti bs, bahan dasarnya terigu, jadi kemungkinan kandungan karbohidratnya lebih tinggi, dst.
      Nah dengan mengetahui hal ini, maka kita akan tau kapan memberikan pakan alternatif a, kapan memberikan pakan alternatif b, dll. jadi istilahnya "Gak Asal Ngasih Pakan"
2.    Perhatikan Ketersediaannya
    Budidaya lele (pembesaran) berlangsung kurang lebih antara 2-4 bulan per siklus. tergantung taknik dan pakan yang digunakan. nah apakan pakan alternatif yang anda gunakan dapat tersedia untuk waktu tersebut? usahakan pilih yang selalu tersedia (tidak musiman)
3.    Perhatikan Harga pakan alternatif anda
     Ini penting, harga pakan alternatif sebaiknya harus sangat diperhitungkan. hal ini agar tidak menjadi bumerang bagi kita. istilahnya mau untung malah buntung (baca dibawah). Kenapa? karena kandungan nutrisinya beda, proposrinya beda, dll. Harap ingat, pelet dihargai dalam bentuk kering. jadi gunakan standar itu dalam menilai harga pakan alternatif
    Misal ayam tiren, 1 kilogram ayam tiren, jika di hancurkan dan dibuat tepung akan menjadi berapa kilogram? (saya belum meneliti secara khusus konversi ayam tiren, tapi beberapa teman sudah melakukannya, misal pa Edi Jalasena). misal 1 kg tiren jadi 200 gram tepung ayam. nah berarti untuk mendapat 1 kg pakan tiren kering kita membutuhkan 5kg ayam tiren. nah kalo kita beli ayam tiren seharga 1500, maka untuk mendapatkan 1 kilogram tepung ayam membutuhkan paling tidak 7500.
      Namun hal ini berbeda cerita jika anda mendapatkan pakan alternatif yang GRATIISSSS. atau hanya memberi sekedar uang lelah tentu poin ini tidak jadi masalah
4.     Perhatikan Komponen Pendukung Budidaya anda
    Seperti dikatakan diatas, penggunaan pakan alternatif juga akan menambah residu/sampah pada kolam. hal ini dikarenakan beberapa komponen pada pakan alternatif tidak dimakan atau tidak sempurna dicernanya. Oleh karena itu, sebelum menggunakan pakan alternatif pastikan kolam anda mudah dibersihkan, mudah ganti air, dll
       selain itu harap perhatikan faktor lingkungan.
5.     Catat dengan baik rincian usaha anda
hal ini penting untuk mengetahui berapa besar efisiensi yang anda lakukan. Jadi nantiny bisa menjadi bahan pertimbangan dan perbandingan.
6.     dll
masih banyak sih tapi cari aja di mbah google atau etc.
Jika anda terpaksa menggunakan pelet seperti saya (karena komponen-komponen diatas tidak memenuhi), maka yang harus difikirkan adalah bagaimana cara meningkatkan nilai jual, selain memikirkan bagaimana menurunkan biaya produksi.

Ah susah kalo gitu, hehe kalo mau gampang jualnya jangan jual lele, jual bensin, gas, atau jual emas, harganya pasti, sorry becanda. Itulah tantangannya, yang bisa lulus jadi pengusaha sukses, yang males ya gitu deh. Ingat ada banyak pedagang, pedagang yang sukses? hanya ada beberapa. Ada banyak peternak, peternak yang sukses? ada beberapa saja, nah semoga kita salah satunya Amiiiin YRA.

True Story Budidaya Lele - Ingin Untung Malah Buntung
Sebelumnya maaf bagi yang tidak setuju dengan bahasan yang akan saya tuliskan di bawah ini. Apa yang  tuliskan hanya sekedar curhat bagi para peternak pemula yang ingin terjun di budidaya lele sangkuriang atau lele apapun.

Kali ini ceritanya tentang pemberian pakan. tidak dapt dipungkiri, pakan merupakan cost/biaya terbesar dalam budidaya lele. Namun saya rasa tidak hanya dalam budidaya lele dalam budidaya lainpun pakan menjadi pengeluaran terbesar dalam budidaya. Berbagaimacam cara dilakukan untuk menekan pengeluaran pakan. baik dengan cara mencari pakan alternatif, maupun mencapurnya dengan berbagai macam probiotik.
 
Jadi ceritanya, dalam sebuah siklus budidaya, timbul niatan untuk menghemat pengeluaran pakan dengan mengganti pakan yang biasa digunakan dengan pakan yang harganya murah namun dengan tingkat protein yang lebih rendah dari pakan biasanya. Nah dalam kepala saya, kekurangan proteinya ini bisa diakali dengan menambahkan probiotik, karena konon katanya pemberian probiotik akan dapat meningkatkan kadar protein pada pakan.

Jadilah rencana itu dijalankan, 1,2,3 hari di jalani, lele lahap dan masih menunjukan tanda-tanda rakus. menuju hari ke 7-8, pakan sudah habis lebih dari 3 sak. Gejala aneh mulai timbul, kolam mulai berbau. awalnya baunya biasa saja, bau anyir, namun lama kelamaan baunya jadi sangat menyengat. namun lele tetap menunjukan kerakusan yang sama, jadi dalam fikiran saya lele masih sehat dan bagus perkembangannya.

Menuju sak yang ke 4, saya mulai menyadari bahwa pertumbuhan lele jadi tidak seimbang, sebagian lele bertambah besar, dan yang lainnya tetap kecil. padahal saat pemberian pakan, semuanya lahap menyantap pelet.

Nah dari sini saya mulai penasaran, dan saya putuskan untuk memindahkan lele ke kolam lain. Nah disini hal yang memilukan itu (cie cie bahasanya) terjadi. ternyata, di dasar kolam ketinggian lumpur sisa pelet hampit 2-3cm, dan inilah yang menyebabkan sangat bau. Hmmm, jadi ternyata lele memang rakus saat menyantap pelet namun beberapa saat kemudian di muntahkan kembali. wow jadi selama ini lelenya kelaparan dan saling memangsa sehingga pertumbuhannya jadi tidak seimbang.

Duh-duh pengen untung malah buntung, padahal dengan menggunakan pelet yang biasa saja keuntungan yang didapar masih berkisar 20-30%, nah sekarang malah 0% hehe.
Kesimpulannya:
1.     Pemberian pakan harus disesuaikan dengan kebutuhan lele itu sendiri baik dari besar kecilnya ukuran pelet, kandungan nutrisi, dan lain sebaginya
2.    Kanibalisme bisa terjadi jika pasokan pakan tidak mencukupi kebutuhan lele itu sendiri.
3.    Efektifitas Pemberian Probiotik pada pakan juga tergantung pada jenis dan kualitas pakan itu sendiri. 
4.     hehe cuma itu sementara yang bisa saya simpulkan.
Nah ini Pengalamanku, mana pengalamanmu.
Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini 
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca artikel ini. dan Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

"Teh Celup Lele", Ramuan ajaib peternak Lele Sangkuriang - AndreBisa

Pernah menedengar istilah Teh Celup Lele? well ini kedengarannya aneh, kalau ada yang berfikir Teh Celup Lele adalah sejenis sejenis makanan, itu salah besar. Teh Celup Lele sebenarnya tidak ada kaitannya dengan makanan, namun Teh Celup Lele sangat berkaitan dengan management air. seperti diketahui bersama, bahwa sebelum memulai menabur benih, terlebih dahulu air harus di pupuk sedemikian rupa supaya "Matang". Matang dalam pengertian kondisi air sudah dalam kondisi PH yang cukup, jumlah plankton cukup, intinya kondisi air sudah siap untuk ditanami.
 
Lalu apa hubungannya antara management air dengan Teh Celup Lele? Teh Celup Lele adalah pupuk kandang yang dimasukan kedalam karung kemudian di ikat bagian atasnya. nah karung yang sudah diisi pupuk ini kemudian di "celupkan" kedalam kolam. dan bagian atas yang diikat di gantungkan ke pinggiran kolam sehingga mirip dengan Teh Celup. berikut contoh teh Teh Celup Lele.
 
Komposisi yang tepat untuk membuat Teh Celup Lele menurut pengalaman saya adalah 1,5 - 3 kg, per meter persegi. jadi jika membuat kolam dengan ukurang 2x5m, maka diperlukan 15-30kg pupuk kandang. Bisa kotoran ayam atau kotoran kambing/domba. Usahakan jangan menggunakan kotoran sapi. Jika kolam Cukup luas, maka buat jadi beberapa kantong teh celup lele.

Bila diperlukan silahkan tambahkan ramuan Herbal kedalamnya bersamaan pada saat memasukan kohe. cek disini untuk cara membuat herbal: Tips - Cara gampang dan murah membuat Ramuan Herbal untuk Kolam Lele

Keunggulan metode ini untuk mematangkan air adalah kolam tetap bersih, bebas sampah, tanah, lumpur, mempermudah pengelolaan kolam dan masih banyak lagi. Selain itu kondisi air juga lebih jernih jika dibanding dengan memasukan pupuk kandang langsung kedalam kolam. 


Oke mudah-mudahan informasi ini bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini

Salam Patilers

Tips Lele - Tips dan Trik Cara gampang dan murah membuat Ramuan Herbal untuk Kolam Lele - AndreBisa

Rame-rame pembahasan tentang ramuan herbal atau rabal membuat saya jadi teringat saya belum mempostingkan cara untuk membuat ramuan herbal untuk mengompos air. Ramuan herbal ini saya gunakan dikolam dengan teknik organik, atau biasa orang bilang GWS atau apalah. pokoknya fungsinya untuk mengondisikan air supaya stabil, dan jika di tanami bibit lele, lele menjadi nyaman, tidak perlu ganti air kolam, tidak perlu sirkulasi, dan lain sebagainya.

Ramuan herbal ini saya dapatkan dari berbagai sumber. Silahkan coba dan amati. Ingat selalu bijak dalam menggunakan ramuan-ramuan herbal. Walaupun bahan yang dipakai adalah bahan alami, jika diberikan secra berlebihan atau tidak seimbang maka akan kurang maksimal khasiatnya.

Namun satu hal yang pasti, bahan-bahan yang digunakan membuat ramuan herbal ini sangat murah dan dapat dijumpai di lingkungan sekitar kita. Oke langsung saja.
Analisis, Fakta dan Data, GWS, Herbal, Kendala/Penyakit, Kolam Lele, Lele Sangkuriang, Organik, Panduan, Rahasia, Tips dan Trik,
Bahan-bahan
1.   5 Liter Air Bersih
2.   10 Lembar Daun Pepaya Jantan
3.   10 Lembar Daun Sirih
4.   10 Lembar Daun Ketapang
5.   10 Lembar Daun Jawer Kotok
6.   1 Kilogram Arang kayu
7.   1 Kilogram Kotoran Kambing, disarankan kotoran kambing basah atau becek karena bercampur dengan air kencing (Jangan yang bulat-bulat).
Cara Pembuatan
Cara pembuatan ramuan herbal kolam lele ini, sangat mudah, anda tinggal merendam saja bahan-bahan tersebut di menjadi satu  pada wadah khusus, anda bisa menggunakan ember atau galon, lalu biarkan dan diendapkan selama dua minggu dan ramuan herbal kolam lele ini siap digunakan.

Cara penggunaan Ramuan Herbal pada Kolam:
Campurkan 4 (empat) tutup botol aqua (+ 20cc) ramuan herbal kolam lele dengan 5 (lima) liter air, tambahkan dengan 2 (dua) sendok makan garam dapur. Setelah tercampur dengan baik, ramuan herbal kolam lele tersebut bisa segera dimasukan pada kolam lele sangkuriang. komposisi ini adalah untuk kolam berukuran 10 m persegi. Jadi jika kolam anda lebih besar atau lebih kecil dari 10m persegi, tinggal disesuaikan saja.

Caranya memasukan ramuan herbal kolam lele ini adalah cairan yang sudah dicampur dengan garam dan air bersih tadi disebar merata pada permukaan air kolam. Waktu pemberiannya ramuan herbal ini harus bersamaan dengan proses pengomposan. 

Selamat mencoba membuat ramuan herbal untuk kolam lele


Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

Lele Organik - Cara menumbuhkan phytoplankton pada saat Persiapan Kolam Lele - AndreBisa

Jika diperhatikan pada artikel-artikel pembuatan/persiapan kolam sebelumnya, bsa dilihat bahwa warna air sebelum penebaran bibit terlihat berwarna hijau bersih. padahal, saat air dimasukan kondisi dan warna airnya biasa saja. Hal ini disebabkan didalam kolam telah terjadi pertumbuhan phytoplankton pada kolam yang menjadikan air menjadi hijau.
Kondisi air yang telah ditumbuhi phytoplankton
Apakan ini penting? well pertanyaan ini agak sulit dijawab, bisa penting ataupun tidak, namun menurut pegalaman penulis, hal ini memang sangat penting karena kondisi ini menunjukan bahwa air/kondisi kolam sudah siap untuk ditebar bibit.

Kondisi seperti ini pada saat persiapan tebar Bibit, ini sangat penting sekali dilakukan, karena hal ini dilakukan untuk membuat lingkungan air yang nyaman untuk hidup bibit-bibit lele. Pada Lingkungan air yang berwarna Hijau daun maka Suplai Oksigen (O2) dari hasil fotosintesa sangat membantu untuk kenyamanan hidup bibit. Disamping Phytoplankton ini juga sebagai selimut alami yang berfungsi menjaga kestabilan fluktuasi suhu air perbedaan pada siang Hari dan malam harinya.

Namun beberapa peternak tidak menjumpai hal ini, kenapa? dan apa penyebabnya?. hal yang paling sering terjadi adalah peternak sering kali tidak sabar untuk menebar kolam, sehingga kondisi kolam belum mencapai pada konsisi puncaknya. Atau juga penanganan dan pengelolaan kolam yang kurang baik, misal tidak memberikan pupuk kandang pada kolam, dan lain sebagainya.

Akibatnya apa? sering kali meningkatnya tingkat kematian dari lele itu sendiri, atau pertumbuhan lele yang tidak/jauh dari yang diharapkan. Nah bagaimana cara menumbuhkan phytoplankton pada kolam lele kita?

Berikut beberapa tahapan yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan phytoplankton pada kolam kita::
*Masukkan air bersih, kalau air dari sawah atau sungai karena sudah mengandung bibit phytoplankton dan kadar Bahan Organik yang terlarut relatif lebih tinggi, maka akan lebih mudah dalam pembentukan warna airnya. Tetapi apabila sumber airnya adalah air dari sumber mata air atau sumur, maka perlu dipancing dengan adanya pemupukan menggunakan pupuk Kandang sebanyak 0,5 Kg/M3 (Istilahnya Teh Celup Lele).
*Untuk yang menggunakan air sungai atau air sungai, harap siperhatikan apakah air kolam/sungai sudah tercemar polutan atau belum, jika sudah keruh atau berbau sebaiknya pakai air sumur sja.
*Bila diperlukan Tambahkan Probiotik secukupnya
*Pada kolam tanah kemungkinan akan lebih mudah dalam membuat warna air cepat menjadi Hijau, sedangkan pada kolam plastik atau beton agak lebih sulit. 
*Hal yang perlu diperhatikan adalah, pada kolam tanah mudah sekali menjebak kotoran atau Bahan Organik, maka akan mudah didapat kondisi lingkungan yang cepat subur diumur masa budidaya diatas 60 hari, sehingga sering terjadi gejolak penyakit yang disebabkan oleh penurunan daya dukung lingkungan kolam karena kotoran yang berlebih. Sehingga diperlukan PERAWATAN AIR.
*Pada kolam Plastik atau Beton, pada awalnya memang sulit untuk membetuk warna air, tetapi seiring dengan waktu berjalan dan bertambahnya pengalaman kita dalam mengolah air maka justru pada jenis kolam ini mudah sekali mengontrol tingkat kesuburan dalam kolam.

CATATAN: bagi yang menggunakan Teknik Teh Celup Lele, maka kondisi ini dicapai setelah 7-14 Hari pasca pencelupan pupuk organik. 

Mudah mudahan artikel ini bisa mermanfaat, jika ada yang mempunyai ide lain bisa didiskusikan di forum atau di kotak komentar. 

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini

Salam Patilers